Kamis, 31 Oktober 2013

Masa - Masa Indah Di Kampus

Namaku mariel al fahd, panggilan ku riel. kadang ri. aku kuliah di akademi bahasa indonesia jurusan sastra indonesia. semester 2.
jam di dinding kelasku menunjukkan pukul 2.30 siang. berarti sebentar lagi, kuliah bakal kelar. “benar juga tepat pukul 2.35 bel pun berbunyi menandakan jam kuliah sudah selesai. “fiuhh, selesai juga akhirnya,” “ri lo berniat mau ke mall gak? hari ini?” tanya ninah sahabatku. “enggak, kenapa emang?” “ya gue mau nebeng, secara kan lo pake mobil dianter supir lo, iya kan?” ujarnya sambil merangkulku. “kayaknya kali ini supirku gak bisa jemput deh, papiku ada urusan ke luar kota jadi papiku minta di supirin. kali ini aku naik angkot and langsung pulang.” “ohh gitu. kalau naik angkot sih, enggak deh, gue minta anter nedo aja. dahh riel..” ujarnya sambil berlari ke parkiran motor. “hmm, dasar ninah..”
Aku pun nunggu angkot di depan kampus yang hampir 1/2 jam gak dateng-dateng. tiba-tiba mobil soluna hitam lewat di depanku dan berhenti. “mariel, lagi ngapain? kok siang-siang gini kamu masih di depan kampus.” pak shohiby, batinku. “nunggu angkot pak.” ucapku singkat. “ayo naik aja, biar bapak anter.” “ohh enggak usah pak, nanti juga lewat angkotnya saya gak mau ngerepotin bapak.” ujarku lagi. “udah gak pa pa, ayo masuk.” “ya udah deh kalau gitu.” aku pun masuk dan duduk di belakang.
“gimana kuliah kamu hari ini?” pak shohiby memulai pembicaraan. “baik pak. tambah susah.” “yah kamu harus banyak belajar, cita-cita kamu jadi seorang penulis kan?” “iya.” “panggil pak jihad aja, enggak usah terlalu formal.” “iya pak”. selama di perjalanan sesekali pak jihad melirikku sambil tersenyum. “oh ya rumah kamu di mana ya mariel?” tanya pak jihad. “di perumahan taman kota I, pak, masuk komplek situ, pagar biru, no 11.” “oh perumahan taman kota I, kok bisa kebetulan gitu ya?” “maksud bapak?” “saya tinggal di taman kota II.” “hah? masa? wah tetangga jauh pak” candaku.
Sesampainya di depan rumahku. “bapak mau mampir?” tawarku “maksih kapan-kapan saja. bapak pamit ya. mari..” “iya pak”, aku pun masuk ke rumah ku. “siapa tadi? pacar mu dek?” tanya kak abu. “ada dehh mau tau aja.” “eh dek, kamu jangan sembarangan jalan sama orang yang enggak di kenal.” “ehh siapa juga yang jalan sama orang yang gak dikenal, orang tadi dosen riel kok, kakak sirik aja, makanya cari pacar, jangan cuma bisanya browsing aja terus…” ucapku sambil mengambil air minum di kulkas.” “oh, dosen kamu? dosen apa dosen?” goda kak abu sambil memandangku penuh curiga. “yah dosen lah..” “udah ah kakak, godain riel terus” ucapku sambil naik ke kamarku.
“kok aneh ya, kayaknya aku naksir deh sama pak jihad, secara dia dosen termuda di kampus ku, dibandingkan dengan pak andi yang super kiler itu jauh banget. pak jihad orangnya lebih tenang, dan keren pastinya.” tiba-tiba handphoneku bunyi membuyarkan lamunanku “ya hallo, siapa nih?” “ini gue ninah.” jawabnya “ada apa nin?” “enggak, lo dianter ya sama pak jihad?” “hah? lo tau dari mana?” “yah tau aja. jangan-jangan lo cinlok sama pak jihad.” “cinlok? bahasa lo… sinetron banget, lo kata kita lagi casting.” “ahh elo, ri itu kan cuman istilah.” “oke deh pulsa gue udah mau abis nih, gue tutup dulu oke. bye,” “oke bye”. tiba-tiba ada yang mengetuk pintu “mariel, gak makan malem dek?” “gak laper, kakak duluan aja, abis papi gak ada, jadi terasa kurang lengkap.” “loh kok kamu jadi ngomong kayak gitu. papi kan kerja” “papi gak peduli sama kita.” “mariel, kamu enggak boleh ngomong kayak gitu, papi ngelakuin semua itu demi kita anak-anaknya. dan juga mami.” “mami? mami kan selalu sibuk sama urusan arisan, dan kateringnya mana punya waktu mami buat makan bersama kita.” “dek, please.. jangan ngomong gitu.” “udah ah kakak keluar sana gangguin mood riel aja.” dorongku menuju pintu kamarku dan buru-buru aku menutup pintu kamar ku dan kukunci. “maafin riel kak, riel cuman ngerasa bosen aja setiap saat kita selalu makan malem berdua. riel pengen kita berempat makan bersama. tapi kayak nya itu cuma sekedar keinginan yang gak akan pernah terwujud”.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Alunan Nada

Jemari halus mengetuk kalbu
Membangunkan kehangatan
Dari tidur yang lelap 
Setelah Pekat malam

Senandung lembut yang kerap hadir
Dalam lembah-lembah imajinasi
Dalam lantunan kesedihan
Dalam lantunan Kebahagiaan

Menghadirkan kenangan silam
Disaat gundah
Disaat putus asa

Minggu, 13 Oktober 2013

Bumi

Bumi namamu dari dulu
Tempat ketiga dari tata surya
Yang akan Terasa kembali aku padamu
musnah
Oleh maklukmu yang bernama manusia
Tak pernah kenal rasa sayang padamu
Bumi
      
    Organ tubuhmu sudah rusak dimana-mana
            Paru-mu sudah hangus terbakar amarah
            Amarah merah dari manusia makhluk cintamu
            Tubuhmu longsor satu-satu
            Melingkar mendalam menunjukan sakit
            Perih yang kau derita
            Bumi
Darahmu begitu tinggi hipertensi
Dan kau sering menangis
Untuk apa kau lakukan bumi
Hanya sia-sia bagimu
Kau sudah sakit bumi
            Kau terkadang terbatuk lahar
            Juga merinding serta flu
            Yang kau deritai sampai saat ini
            Makhlukmu tak ada yang peduli
            Malah menambah sakit dijiwamu
Akankah kau berhenti sampai disini
Walau kau tak sesehat dulu
Akan kah ada 1 abad lagi untukmu
Yang sudah tua saat ini
            Kau jangan mati…esok hari
            Cukup aku saja…
            Kau jangan sedih lagi
            Karena aku yang peduli untukmu
Bumi

Sabtu, 12 Oktober 2013

Pupus

ketika semua sirna...
angan jauh melayang...
terombang ambing badai kepedihan...
saat mata terpejam..hempas kan letih,,
duka lara yang tependam di qalbu...
menggemakan rintihan pilu..
menghantar buramnya asa...
menunduk dalam...
dalam betik do'a....
Tuhan...
aku pun ingin bahagia....

Senin, 07 Oktober 2013

Selamat Datang Cinta !

Kasih...
hanya ku ingin pinta
jangan kau larut
dalam,
indah lukisan kata

Aku takut,
kau terjebak
dalam semu
fata morgana
ada....namun tiada

Kasih...
bahasaku hanyalah
untaian kata sederhana
bukan asli pujangga
kau takkan dapatkan
ungkapan sekelas
Kahlil gibran

Biarlah
aku menjadi aku
bukan ku tak mampu,
hanya ku tak mau,
memujamu, hanya sebatas
kata

Minggu, 06 Oktober 2013

Penantian

Goresan tinta diantara senyuman rembulan
Memberikan sindiran manis diantara indah malam
Diantara kaskada ku terduduk
Bersama angin yang berlari di padang rumput
Semakin kencang sakit terkena

Ditertawakan rumput sudah biasa
Tersipu malu ku di tanya bintang
Mulut terkunci tak  bisa menjawab
Tak tersadar hati pun menjawab
Menunggu matahari yang tak kunjung datang