Namaku mariel al fahd,
panggilan ku riel. kadang ri. aku kuliah di akademi bahasa indonesia jurusan
sastra indonesia. semester 2.
jam di dinding kelasku
menunjukkan pukul 2.30 siang. berarti sebentar lagi, kuliah bakal kelar. “benar
juga tepat pukul 2.35 bel pun berbunyi menandakan jam kuliah sudah selesai.
“fiuhh, selesai juga akhirnya,” “ri lo berniat mau ke mall gak? hari ini?” tanya
ninah sahabatku. “enggak, kenapa emang?” “ya gue mau nebeng, secara kan lo pake
mobil dianter supir lo, iya kan?” ujarnya sambil merangkulku. “kayaknya kali
ini supirku gak bisa jemput deh, papiku ada urusan ke luar kota jadi papiku
minta di supirin. kali ini aku naik angkot and langsung pulang.” “ohh gitu.
kalau naik angkot sih, enggak deh, gue minta anter nedo aja. dahh riel..”
ujarnya sambil berlari ke parkiran motor. “hmm, dasar ninah..”
Aku pun nunggu angkot di
depan kampus yang hampir 1/2 jam gak dateng-dateng. tiba-tiba mobil soluna
hitam lewat di depanku dan berhenti. “mariel, lagi ngapain? kok siang-siang
gini kamu masih di depan kampus.” pak shohiby, batinku. “nunggu angkot pak.”
ucapku singkat. “ayo naik aja, biar bapak anter.” “ohh enggak usah pak, nanti
juga lewat angkotnya saya gak mau ngerepotin bapak.” ujarku lagi. “udah gak pa
pa, ayo masuk.” “ya udah deh kalau gitu.” aku pun masuk dan duduk di belakang.
“gimana kuliah kamu hari
ini?” pak shohiby memulai pembicaraan. “baik pak. tambah susah.” “yah kamu
harus banyak belajar, cita-cita kamu jadi seorang penulis kan?” “iya.” “panggil
pak jihad aja, enggak usah terlalu formal.” “iya pak”. selama di perjalanan
sesekali pak jihad melirikku sambil tersenyum. “oh ya rumah kamu di mana ya
mariel?” tanya pak jihad. “di perumahan taman kota I, pak, masuk komplek situ,
pagar biru, no 11.” “oh perumahan taman kota I, kok bisa kebetulan gitu ya?”
“maksud bapak?” “saya tinggal di taman kota II.” “hah? masa? wah tetangga jauh
pak” candaku.
Sesampainya di depan
rumahku. “bapak mau mampir?” tawarku “maksih kapan-kapan saja. bapak pamit ya.
mari..” “iya pak”, aku pun masuk ke rumah ku. “siapa tadi? pacar mu dek?” tanya
kak abu. “ada dehh mau tau aja.” “eh dek, kamu jangan sembarangan jalan sama
orang yang enggak di kenal.” “ehh siapa juga yang jalan sama orang yang gak
dikenal, orang tadi dosen riel kok, kakak sirik aja, makanya cari pacar, jangan
cuma bisanya browsing aja terus…” ucapku sambil mengambil air minum di kulkas.”
“oh, dosen kamu? dosen apa dosen?” goda kak abu sambil memandangku penuh
curiga. “yah dosen lah..” “udah ah kakak, godain riel terus” ucapku sambil naik
ke kamarku.
“kok aneh ya, kayaknya
aku naksir deh sama pak jihad, secara dia dosen termuda di kampus ku,
dibandingkan dengan pak andi yang super kiler itu jauh banget. pak jihad
orangnya lebih tenang, dan keren pastinya.” tiba-tiba handphoneku bunyi
membuyarkan lamunanku “ya hallo, siapa nih?” “ini gue ninah.” jawabnya “ada apa
nin?” “enggak, lo dianter ya sama pak jihad?” “hah? lo tau dari mana?” “yah tau
aja. jangan-jangan lo cinlok sama pak jihad.” “cinlok? bahasa lo… sinetron
banget, lo kata kita lagi casting.” “ahh elo, ri itu kan cuman istilah.” “oke
deh pulsa gue udah mau abis nih, gue tutup dulu oke. bye,” “oke bye”. tiba-tiba
ada yang mengetuk pintu “mariel, gak makan malem dek?” “gak laper, kakak duluan
aja, abis papi gak ada, jadi terasa kurang lengkap.” “loh kok kamu jadi ngomong
kayak gitu. papi kan kerja” “papi gak peduli sama kita.” “mariel, kamu enggak
boleh ngomong kayak gitu, papi ngelakuin semua itu demi kita anak-anaknya. dan
juga mami.” “mami? mami kan selalu sibuk sama urusan arisan, dan kateringnya
mana punya waktu mami buat makan bersama kita.” “dek, please.. jangan ngomong
gitu.” “udah ah kakak keluar sana gangguin mood riel aja.” dorongku menuju
pintu kamarku dan buru-buru aku menutup pintu kamar ku dan kukunci. “maafin
riel kak, riel cuman ngerasa bosen aja setiap saat kita selalu makan malem
berdua. riel pengen kita berempat makan bersama. tapi kayak nya itu cuma sekedar
keinginan yang gak akan pernah terwujud”.
Masa - Masa Indah Di Kampus