Rabu, 25 Desember 2013

Satu Sajak Untuk Kalian

Bertelanjangan kaki menapaki jalan
Diantara kerikil tajam panas matari
Bersama kita lewati semua
Gembira ada, sedih pun datang

Apa kau lihat gugusan bintang di siang hari?
Atau hanya ilusi yang ku lihat sendiri
Wajah terlukis di bintang itu
Terlihat wajahmu, juga wajahku

Apa kau ingat bencana yang menimpa kita?
Atau hanya kenangan yang telah kau lupakan
Kau memberiku semangat juang
Disaat ku lelah dan sudah akan menyerah.

Kita semua satu, tak bisa terpisahkan
Bukan juga mereka yang memisahkan
Kita semua satu, tak akan terlupakan
Bukan juga kita yang berusaha melupakan

Aku ada kau pun ada
Kita ada karna mereka
Tapi kita bukanlah mereka
Dan mereka bukan juga kita 

Senin, 23 Desember 2013

Sajak

musim telah mengganti warna-warna di sekeliling kita setiap waktu 
rasa ini bergetar seperti sekuntum bunga yang tak pernah layu 
aku memikirkan dirimu 

kata-kata yang kita saling mainkan bagaikan melodi yang indah 
aku bahagia memilikimu di dekatku 
sehingga mata yang tengah tersenyum itu takkan menangis 
aku akan melakukannya, sehingga engaku tak dapat melihat bintang-bintang di malam hari 

aku akan menyelimutimu seperti cahaya yang menyirami pepohonan 
itulah kekuatanku, sumpah yang takkan berubah 
mimpi teruslah menjadi mimpi 
aku tak peduli, aku mencintaimu 
aku terbungkus oleh cahaya 
aku hadapi hari esok 
karena kebahagiaan bagaimanapun adalah nyata 

cinta untukmu hidup di dalam diriku 
cinta setiap hari 
demi cinta kau di sampingku 
cinta setiap hari 

meski kenangan sedih telah terkunci 
kau tawarkan dengan lembut tangan halusmu 
aku mendekatimu dengan bahagia, diterbangkan oleh angin yang lembut 
aku terlena oleh hari panjang yang sangat cemerlang 


musim telah mengganti warna-warna di sekeliling kita setiap waktu 
rasa ini bergetar seperti sekuntum bunga yang tak pernah layu 
mimpi teruslah menjadi mimpi 
aku tak peduli, aku mencintaimu 
aku terbungkus oleh cahaya 
hatiku terlumuri oleh pikiran tentang dirimu 

cinta untukmu hidup di dalam diriku 
cinta setiap hari 
demi cinta kau di sampingku 
cinta setiap hari

Sabtu, 21 Desember 2013

Menunggu Jawabmu

Menantang arah angin, Diantara epitaf
Hanya bisa membisu, Diantara kaskada

Sampaikah surat yang di bawa oleh angin?
Yang aku titipkan sehari lalu
Ataukah hancur oleh peluru air?
yang membasahi bumi malam lalu

Tersayat habis sudah tubuhku
Darah enggan tetap di tubuh
Masihkah kau enggan menjawab?
Biar aku habis di buru waktu

Minggu, 01 Desember 2013

Hujan

Aku membuka jendela kamarku saat hujan mulai turun, menghirup napas dalam semampuku, menikmati aroma tanah kering yang baru saja tersiram air hujan. Tetes-tetes anugrah tuhan yang satu ini selalu bisa membuatku nyaman. Aku pun tersenyum tanpa di sadari.

Untuk mendeskripsikan kecintaan ku pada salah satu ciptaan dan karunia terindah yang di beri tuhan ini rasa nya sudah tak perlu lagi, ini adalah wujud nyata dari sumber kebahagiaan ku. Hujan menyelipkan segala rasa termasuk duka. Namun aku memilih bahagia sebagai kadar yang paling banyak di dalamnya.

Lewat hujan aku belajar banyak hal, memaknai sebuah pesan bisu lewat karya Tuhan yang paling indah. Misalnya, kesedihan. Perasaan itu hadir saat ada awan hitam menggeser awan putih, awan itu menimbulkan efek yang menakutkan lewat hujan yang sangat deras dan lewat gemuruh petir yang memekakan. Namun awan itu hadir hanya sebentar, awan itu sedang menguji kita, dia ingin melihat apakah kita akan tetap tinggal dan menunggunya reda atau pergi menembusnya. Atau mungkin sebagian orang akan menikmati kehadiran nya, kita tidak tahu. Perlahan awan itu bergerak pergi meninggalkan sisa-sisa gerimis, awan putih mulai hadir kembali. Hujan dan awan merupakan satu kesatuan yang ku kagumi. Bahkan Tuhan menyelipkan pelangi di dalamnya, menambah keindahan lukisan alam yang memesona. Entah siapa yang memulai, semua orang tahu pelangi akan hadir beriringan setelah badai reda. Setiap orang memaknai nya seperti itu, tapi kenapa kita tak pernah tahu jika kita bahkan bisa menari di tengah iringan badai, memaknai segala nya semudah mungkin karena meyakini satu hal, badai singgah tak akan lama, maka nikmatilah.

Hujan itu diciptakan untuk banyak hal, salah satu nya untuk menumbuhkan kehidupan. Tanpa hujan, tidak akan ada tumbuhan yang tumbuh. Hujan turun, menggenang lalu pergi lagi. Segala ciptaan Tuhan yang datang akan pergi lagi. Hujan pun tidak akan pernah tau kapan ia diciptakan dan kapan ia kembali, seringkali kita melihat langit yang cerah tiba-tiba hujan turun tak lama lalu reda. Hujan pun tak tahu harus hadir dalam keadaan seperti apa. Apakah hujan bisa memilih ingin diturunkan dimana? Di atas aspal? Di atas kuburan? Di atas sungai atau laut? Atau di atas padang rumput? Hujan tidak tau, yang hujan tau titik air nya sebagian akan menggenang lalu hilang. Yang ia tahu, ia telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Seringkali aku mengabaikan hal-hal kecil yang patut aku syukuri kehadiran nya, karena segala hal Tuhan ciptakan dengan sebuah alasan, dengan sebuah makna besar yang terkandung di dalamnya karena alam pun merupakan guru kita. Guru yang dapat memberikan makna tentang segala aspek kehidupan dari sudut pandang sekecil apapun itu.


Aku menutup jendela kamarku saat gerimis itu mulai reda. Rasa syukur ku selalu bertambah setelah aku melihat hujan. Kerinduan ku perlahan terobati.